Cara Qodho Sholat Yang Terlewat

Cara Qodho Sholat Yang Terlewat




Kembali lagi dengan saya rian putra 79, kali ini saya akan membahas topik tentang agama yaitu salah satunya adalah sholat, yang merupakan rukun dalam agama islam dan wajib untuk dikerjakan bagi setiap muslimin dan muslimah. Jika sholat ini memiliki hukum "WAJIB" maka sudah sepantasnya kita untuk tidak meninggalkannya.

Namun apa jadinya jika dahulu kita tidak mengerjakan sholat, dan sekarang ingin mengerjakan dan konsisten. Apakah sholat yang terdahulu itu harus diganti ataukah ada cara lain ? kita akan bahas satu persatu dibawah ini.



Bahaya Meninggalkan Sholat


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun di atas lima tiang: Syahadat Lâ ilâha illa Allâh dan Muhammad Rasûlullâh; menegakkan shalat; memberikan zakat; haji; dan puasa Ramadhân.” (HR. Bukhâri, no. 8; Muslim, no. 16)
Dengan menjaga sholat kita juga sebenarnya menjaga tiang-tiang agama kita agar tetap kokoh, apa jadinya jika umat islam tidak ada yang sholat (naudzubillah) maka dapat dipastikan tiang-tiang yang harusnya kokoh malah menjadi melemah, dikarenakan umatnya sendiri. Oleh karena itu saudaraku seiman, janganlah tinggalkan sholat kita ini tak cukup kah teguran yang Allah berikan kepada kita melalui gempa yang ada di palu, donggala, situbondo, lombok, dll. 
Itu merupakan teguran keras untuk kita, agar segera bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata'ala.


Dosa Meninggalkan Sholat Lebih Besar Dibandingkan Dosa Besar Lainnya


Ini juga adalah hal yang tidak kalah penting, mengingat kita selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan haram yang selain mengundang murka allah, juga mengundang murka para manusia seperti mencuri, berzina, membunuh. Tapi sering sekali manusia melalaikan yang namanya sholat, jangan sampai sholat tidak dilaksanakan sementara kalau berzina bilang "Na'udzubillah" tentu sesuatu yang aneh dimata agama islam.


Allah Ta’ala berfirman,
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)


Cara Mengqodho Sholat 


Mengqodho sholat sendiri sebenarnya adalah mengganti sholat yang terlewat. Adapun masalah terlewatnya karena disengaja ataupun tidak ulama berbeda pendapat tentang masalah ini. Untuk itu saya akan membahas dari pendapat imam syafi'i dan dari pendapat ulama lain. Kenapa saya masukkan imam syafi'i karena mayoritas orang islam di indonesia itu mengikuti atau bermazhab syafi'i,



1. Menutur Imam Syafi'i Wajib Qadha


Dalam kitabnya disebutkan bahwa dalam pendapat imam syafi'i sendiri mewajibkan untuk mengganti sholat yang terlewat baik itu dalam keadaan sengaja ataupun tidak sengaja. Jika misalnya saja ketinggalan sholat subuh, karena ketiduran maka saat bangun wajib baginya untuk mengganti sholatnya tadi. Sementara yang meninggalkannya karena sengaja maka, dia harus sesegera mungkin untuk menggantinya.

Asy-Syairazi (w. 476 H) salah satu ulama rujukan dalam mazhab Asy-Syafi’iyah menuliskan di dalam kitabnya :
ومن وجبت عليه الصلاة فلم يصل حتى فات الوقت لزمه قضاؤها
“Orang yang wajib mengerjakan sholat namun belum mengerjakannya hingga terlewat waktunya, maka wajiblah atasnya untuk mengqodho’nya.” [Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 106]
Imam An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq terbesar dalam mazhab Asy-Syafi’iyah menuliskan di dalam kitabnya :
من لزمه صلاة ففاتته لزمه قضاؤها سواء فاتت بعذر أو بغيره فإن كان فواتها بعذر كان قضاؤها على التراخي ويستحب أن يقضيها على الفور
“Orang yang wajib atasnya sholat namun melewatkannya, maka wajib atasnya untuk mengqodho’nya, baik terlewat karena udzur atau tanpa udzur. Bila terlewatnya karena udzur boleh mengqadha’nya dengan ditunda namun bila dipercepat hukumnya mustahab.” [Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 68] 

(sumber : mtsmaarif2mlb.sch.id)



2. Menurut Imam Hanbali Tidak Wajib Qodho


Kalau dalam mazhab Imam Hanbali tidak wajib dalam mengganti sholat yang terlewat, tetapi yang perlu dilakukan agar sholat-sholat di masa lalu yang tidak dikerjakan itu bisa tergantikan, maka haruslah memperbanyak amal sholeh terutama sholat-sholat sunnah untuk bisa menutupi dan menambal sholat-sholat yang terdahulu tidak dikerjakan.


Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama rujukan di dalam mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya :
إذا كثرت الفوائت عليه يتشاغل بالقضاء ما لم يلحقه مشقة في بدنه أو ماله
“Bila sholat yang ditinggalkan terlalu banyak maka wajib menyibukkan diri untuk menqodho’nya, selama tidak menjadi masyaqqah pada tubuh atau hartanya.” [Al-Mughni, jilid 1 hal. 435]
Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya :
وَمَنْ فَاتَتْهُ صَلَوَاتٌ لَزِمَهُ قَضَاؤُهَا عَلَى الْفَوْرِ
“Orang yang terlewat dari mengerjakan sholat maka wajib atasnya untuk mengqodho’ saat itu juga.” [Al-Inshaf, jilid 1 hal. 442]
————————
Pendapat berbeda datang dari ahli fikih dari mazhab dhahiri yaitu Abu Muhammad Ali bin Hazm (w. 456 H). menuliskan di dalam kitabnya :
وأما من تعمد ترك الصلاة حتى خرج وقتها فهذا لا يقدر على قضائها أبدا فليكثر من فعل الخير وصلاة التطوع ليثقل ميزانه يوم القيامة وليتب وليستغفر الله عز وجل
“Orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar dari waktunya, maka tidak dihitung qodho’nya selamanya. Maka dia memperbanyak amal kebaikan dan shalat sunnah untuk meringankan timbangan amal buruknya di hari kiamat, lalu dia bertaubat dan meminta ampun kepada Allah SWT.” [Al-Muhalla bil Atsar , jilid 2 hal. 9]

(Sumber : Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama rujukan di dalam mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya :
إذا كثرت الفوائت عليه يتشاغل بالقضاء ما لم يلحقه مشقة في بدنه أو ماله
“Bila sholat yang ditinggalkan terlalu banyak maka wajib menyibukkan diri untuk menqodho’nya, selama tidak menjadi masyaqqah pada tubuh atau hartanya.” [Al-Mughni, jilid 1 hal. 435]
Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya :
وَمَنْ فَاتَتْهُ صَلَوَاتٌ لَزِمَهُ قَضَاؤُهَا عَلَى الْفَوْرِ
“Orang yang terlewat dari mengerjakan sholat maka wajib atasnya untuk mengqodho’ saat itu juga.” [Al-Inshaf, jilid 1 hal. 442]
————————
Pendapat berbeda datang dari ahli fikih dari mazhab dhahiri yaitu Abu Muhammad Ali bin Hazm (w. 456 H). menuliskan di dalam kitabnya :
وأما من تعمد ترك الصلاة حتى خرج وقتها فهذا لا يقدر على قضائها أبدا فليكثر من فعل الخير وصلاة التطوع ليثقل ميزانه يوم القيامة وليتب وليستغفر الله عز وجل
“Orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar dari waktunya, maka tidak dihitung qodho’nya selamanya. Maka dia memperbanyak amal kebaikan dan shalat sunnah untuk meringankan timbangan amal buruknya di hari kiamat, lalu dia bertaubat dan meminta ampun kepada Allah SWT.” [Al-Muhalla bil Atsar , jilid 2 hal. 9]

(Sumber : Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama rujukan di dalam mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya :
إذا كثرت الفوائت عليه يتشاغل بالقضاء ما لم يلحقه مشقة في بدنه أو ماله
“Bila sholat yang ditinggalkan terlalu banyak maka wajib menyibukkan diri untuk menqodho’nya, selama tidak menjadi masyaqqah pada tubuh atau hartanya.” [Al-Mughni, jilid 1 hal. 435]
Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya :
وَمَنْ فَاتَتْهُ صَلَوَاتٌ لَزِمَهُ قَضَاؤُهَا عَلَى الْفَوْرِ
“Orang yang terlewat dari mengerjakan sholat maka wajib atasnya untuk mengqodho’ saat itu juga.” [Al-Inshaf, jilid 1 hal. 442]
————————
Pendapat berbeda datang dari ahli fikih dari mazhab dhahiri yaitu Abu Muhammad Ali bin Hazm (w. 456 H). menuliskan di dalam kitabnya :
وأما من تعمد ترك الصلاة حتى خرج وقتها فهذا لا يقدر على قضائها أبدا فليكثر من فعل الخير وصلاة التطوع ليثقل ميزانه يوم القيامة وليتب وليستغفر الله عز وجل
“Orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar dari waktunya, maka tidak dihitung qodho’nya selamanya. Maka dia memperbanyak amal kebaikan dan shalat sunnah untuk meringankan timbangan amal buruknya di hari kiamat, lalu dia bertaubat dan meminta ampun kepada Allah SWT.” [Al-Muhalla bil Atsar , jilid 2 hal. 9]

(Sumber : mtsmaarif2mlb.sch.id)


Kesimpulan


Yang bisa kita petik dari pelajaran hari ini adalah kita harus menghargai ibadah utama kita yaitu sholat 5 waktu. Tanpa kita mengerjakan ibadah ini, maka tiang-tiang agama pun akan melemah saudaraku, dan untuk kehati-hatian lebih baik mengqodho terlebih dahulu sholat yang sudah terlewat dahulu, lalu setelah itu kita kerjakan amal sholeh dan sholat sunnah lebih banyak lagi agar kita bisa memperbaiki sholat kita selama hidup didunia ini.


Terima kasih telah membaca artikel ini, memang artikel ini tidak begitu lengkap dalam menjelaskan masalah ini. Karena saya juga manusia biasa yang tidak luput dari salah dan khilaf, jadi mohon maafkan saya jika dalam penulisan diatas ada kesalahan ataupun ada hal yang bisa menyinggung saudaraku seiman sekalian.

Terima kasih sudah membaca